Rancangan Aksi Nyata

Rancangan Tindakan dan Aksi Nyata Pembelajaran jarak jauh (PPJ)

Nama : Donnizar, S.Si

CGP _Pekanbaru

No. Peserta: 201500745046Judul Modul: Merdeka belajar dalam PJJ

Latar Belakang

Untuk memastikan merdeka belajar dalam pembelajaran jarak jauh cukup sulit dilakukan. Ada beberapa hal yang melatar belakangi saya dalam merancang tindakan Merdeka Belajar dalam PJJ ini antara lain: Dalam pembelajaran jarak jauh, anak-anak sebenarnya sudah diberikan kebebasan dalam belajar, baik ruang dan waktu belajar yang bisa disesuaikan dengan kondisi anak. Tetapi dalam kenyataannya bahwa masih banyak siswa yang yang enggan ikut aktif dalam pembelajaran jarak jauh ini. Dilihat dari rekap absensi yang dilakukan setiap saya melaksanakan PJJ masih ada sebanyak 20% siswa yang belum ikut dalam pembelajaran tersebut. Dan hasil capaian belajar juga masih rendah yaitu sekitar 60% ketuntasan belajar  rata-rata yang dapat dicapai. Adapun metode belajar yang selama ini saya terapkan adalah dengan cara share materi di Grup Whatsapp dan memberikan soal latihan untuk dikerjakan siswa secara pribadi.

Tujuan

Adapun Tujuan yang ingin saya capai dalam  rancangan tindakan ini adalah: 1.Siswa dapat berpartisipasi aktif  dan tidak merasa terbebani dalam setiap pembelajaran daring. 2.Siswa merdeka belajar dengan metode pembelajaran yang saya berikan. 3.Hasil capaian belajar siswa dapat meningkat dalam pembelajaran daring ini. Melakukan pembiasaan yang baik dengan cara mengucap dan menjawab salam sebelum pembelajaran dimulai melalu PJJ

Linimasa Tindakan Yang Akan Dilakukan

Adapun Tindakan yang akan saya lakukan adalah:

  1. Memastikan kesiapa siswa dalam pembelajaran daring, dengan cara membagikan lembaran isian berupa forms yang terkait dengan kesiapan siswa sevelum pembelajaran, diantaranya dukungan orang tua dan keluarga dalam pembelajaran.
  2. Membuat rancangan pembelajaran dengan penyampaian materi berupa, Handout, vidio pembelajaran, voice note, atau Vidcon dengan tujuan memberikan kebebasan kepada siswa untuk memilih cara pembelajaran yang mereka sukai untuk menunjang dalam merdeka belajar.
  3. Melakukan penilaian pengetahuan  dan absensi kepada siswa setelah pembelajaran dilakukan.
  4. Memberikan umpan balik kepada siswa dengan cara membuat forms isian yang berisi tanggapan siswa terhadap pembelajaran yang telah dilakukan pada hari tersebut.

Tolak Ukur

Dari semua kegiatan tersebut, untuk melihat ketercapaian tujuan, dilengkapi dengan bukti-bukti sebagai berikut:

  1. Forms isian kesiapan siswa dalam belajar.
  2. RPP
  3. Lembar Penilaian
  4. Forms refleksi berupa tangapan siswa terhadap pembelajaran
  5. Rekap penilaian dan absensi siswa
  6. Foto kegiatan Vidcon

Dukungan Penunjang Pembelajaran

  1. Media Pembelajaran, berupa: Laptop, Hp, Printer, kuota internet, tripot, headset, kertas HVs. (Disediakan Pribadi, kecuali printer dipinjam dari sekolah).
  2. Dukungan moril dari kepala sekolah
  3. Dukungan dari teman sejawat
  4. Dukungan dari siswa
  5. Dukungan dari Orang tua siswa

Sintesis Pemikiran Ki Hajar Dewantara

Oleh: Donnizar, S.Si

CGP_Pekanbaru 201500745046

Seiring dengan perkembangan zaman, banyak hal dalam hidup ini yang berubah. Tidak terkecuali kehidupan seorang guru. Cara guru mengajar saat ini pasti berbeda dengan cara mengajar guru-guru kita puluhan tahun yang lalu. Tetapi mereka tetap menjadi  inspirasi saya sebagai seorang guru saat ini.

Guru saya  zaman dahulu terkenal killer. Jika  lupa mengerjakan PR atau tidak memperhatikan penjelasan guru  di kelas,  akan dihukum. Hukumannya pun tidak main-main, Squad! Dijamin kamu akan kapok dan tidak mau mengulangi  kesalahanmu lagi. Perbedaan lainnya adalah penjelasan yang diberikan oleh guru zaman dahulu sangat rinci. Hal tersebut disebabkan belum banyaknya sumber informasi lain selain dari guru. Tidak seperti sekarang di mana para siswa dapat mencari bahan belajar dari seluruh dunia melalui internet. Akibatnya, guru-guru zaman sekarang lebih sering menjelaskan suatu materi secara singkat.

Sekarang ini, siswa tidak hanya mudah bercerita dengan gurunya, bahkan mungkin siswa bisa curhat dan bercanda dengan mereka. Lain halnya dengan apa yang saya alami di zaman dahulu. Guru-guru zaman dahulu tidak mudah untuk diajak berinteraksi. Mereka sangat amat dihormati oleh siswa-siswanya. Tanpa disadari, hal tersebut menimbulkan adanya jarak pemisah antara guru dan siswa. Akibatnya, siswa tidak bisa ‘berteman’ dengan guru-gurunya.

Dengan suara yang harus lantang, guru saya harus menggunakan kapur dan papan tulis sebagai media mengajar pada zaman dahulu. Tulisan mereka harus cukup besar agar dapat kami baca. Lain halnya dengan guru masa kini yang sudah menggunakan software PowerPoint, proyektor, dan mikrofon saat mengajar. Terlebih lagi, sekarang ada berbagaimacamaplikasicanggih yang dapat membantu guru dalam mempersiapkan bahan ajar, menyampaikan pelajaran di kelas, dan memberi penilaian kepada siswanya.

Dulu, tugas biasanya hanya berupa soal-soal  yang harus dikerjakan oleh para siswa, soal tersebut tak jarang didiktekan oleh guru di depan kelas saya sebagai PR di rumah.

Zaman sekarang para guru lebih sering memberi tugas berupa proyek. Selain membuat siswa-siswa lebih kreatif, jenis tugas seperti  ini juga bisa melatih kemampuan siswa untuk bekerja dalam tim..

Guru pada zama sekarang ikut meramaikan  dalam perkembangan media sosisl(Medsos) seperti Facebook, Instagram, Whatsapp dll. Nah, dengangan demikian guru dan siswa saling mengetahui  sedikit banyak tentang pribadi masing-masing atau sharing kegiatan yang dilakukan sehari-hari, sehinga dapat terjalin komunikasi dan saling mengingatkan  serta terjalin kedekatan antara guru dan siswa di medsos tersebut. Zaman dahulu, guru-guru tidak bisa kepo tentang kehidupan pribadi siswa  kecuali dengan cara bertanya langsung dan siswa  dijamin tidak akan tahu kisah hidup gurunya  di luar sekolah.

zaman dahulu guru-guru itu pelit dalam memberi nilai pada peserta didiknya. Ada standar tertentu yang harus dicapai oleh siswa apabila ingin mendapatkan nilai di atas rata-rata. Nilainya pun memiliki komponen nonakademik, lho. Misalnya, kedisiplinan siswa dan ketertibannya di dalam kelas. Dengan begitu, siswa yang mendapat nilai baik tidak hanya pintar tetapi juga memiliki sikap yang baik. Kini, guru-guru memberi nilai hanya berdasarkan jumlah jawaban benar dan salah dalam ujian atau tugas terutama dalam pembelajaran daring (PJJ). Padahal banyak aspek yang semestinya dilaksanakan untuk memberikan nilai akhir kepada siswa, aspek ketuhanan, sosial, penegtahuan dan keterampilan.